Blogger news

KETERAMPILAN BERFIKIR TIGKAT TINGGI (Higher Order Thinking Skill) DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

10 komentar
KETERAMPILAN BERFIKIR TIGKAT TINGGI  (Higher Order Thinking Skill) DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
            Berpikir Tingkat Tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan  atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi membingungkan.
            Membahas tentang “Berpikir Tingkat Tinggi”, mengingatkan kita kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking. Ketiga aspek itu adalahaspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order thinking. Membahas tentang berpikir tingkat tinggi, kita bahas dulu tentang Ketrampilan berfikir.

1.      Definisi Keterampilan Berfikir
            Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan.        Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.
            Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking)berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking).
             Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory.
            Berpikir kompleks Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik.
             Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian.
            Kemampuan berpikir merupakan proses keterampilan yang bisa dilatihkan, Artinya dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kondunsif  akan merangsang siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu maka guru diharapkan untuk mencari metode dan strategi pembelajaran yang dampaknya dapat menigkatkan kemampuan berpikir siswa.
            HOTS Higher Order Thinking Skill” atau keterampilan berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif (Presseisen dalam Costa, 1985). 
            Dalam pembentukan sistem konseptual IPA  proses berpikir tingkat tinggi yang biasa  digunakan adalah berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan pada zaman perkembangan IPTEK sekarang ini, sebab saat ini selain hasil-hasil IPTEK yang dapat dinikmati, ternyata timbul beberapa dampak yang membuat masalah bagi manusia dan lingkungannya. Para peneliti pendidikan menjelaskan bahwa belajar  berpikir kritis tidak langsung seperti belajar tentang materi, tetapi belajar bagaimana cara mengkaitkan berpikir kritis secara efektif dalam dirinya (Beyer dalam Costa,1985). Maksudnya masing-masing keterampilan berpikir kritis dalam penggunaanya untuk memecahkan masalah  saling berkaitan satu sama lain.
Indikator keterampilan berpikir kritis dibagi menjadi lima kelompok (Ennis dalam Costa, 1985) yaitu ; 
  1. memberikan penjelasan sederhana, 
  2. membangun keterampilan dasar, 
  3. menyimpulkan, 
  4. membuat penjelasan lebih lanjut serta mengatur strategi dan taktik.  
Keterampilan pada kelima kelompok berpikir kritis ini dirinci lagi sebagai berikut:  
  1. Memberikan penjelasan sederhana terdiri dari keterampilan memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan.  
  2. Membangun keteranpilan dasar terdiri dari menyesuaikan dengan sumber, mengamati dan melaporkan hasil observasi.  
  3. Menyimpulkan terdiri dari keterampilan mempertimbangkan kesimpulan, melakukan generalisasi dan melakukan evaluasi.  
  4. Membuat penjelasan  lanjut contohnya mengartikan istilah dan membuat definisi.  
  5. Mengatur strategi dan taktik contohnya menentukan suatu tindakan dan berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi.
Keterampilan berpikir siswa dapat dilatihkan melalui kegiatan dimana siswa diberikan suatu masalah dalam hal ini masalah berbentuk soal tes yang bervariasi.  
Ada berbagai  konsep dan contoh keterampilan  berpikir yang dikembangkan oleh para akhli pendidikan.

2. Bagaimana melatih siswa  memiliki ketrampilan berfikir tingkat tinggi (HOTS)
            Di Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa berpikir tingkat tinggi memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu (teacher center) belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia.
            Diperlukan Higher Order Questions (rich questions), pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hypothesise, menganalisis, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, kontras atau membayangkan,  menunjukkan jawaban tingkat tinggi.
            Untuk menjawab Higher Order Questions (rich questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya ke dalam situasi baru.
Soal-soal ulangan yang dibuat oleh guru perlu memperhatikan beberapa hal:
  1. Soal hendaknya menggunakan stimulus, stimulus yang baik hendaknya menyajikan informasi yang jelas, padat, mengandung konsep/gagasan inti permasalahan, dan benar secara fakta.
  2. Soal yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari
  3. Soal mengukur keterampilan berpikir kritis
  4. Soal mengukur keterampilan pemecahan masalah
            Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan pembelajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penbelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:
  • keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa
  • keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi
  • Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing
  • Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).
            Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.
            Hasil penelitian Computer Tchnology Research (CTR) menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat mengingat apa yang dilihatnya sebesar 20%, 30% dari yang didengarnya, 50% dari yang didengar dan dilihatnya, dan 80% dari yang didengar, dilihat dan dikerjakannya secara simultan. Selain itu Levie dan Levie dalam Azhar Arzad (2009: 9) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Sedangkan stimulus verbal memberikan hasil belajar yang lebih baik apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berurut-urutan (sekuensial).
            Dalam dunia pendidikan ada 3 model seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran;
1. I hear and i forget ( Saya mendengar dan saya akan lupa )
2. I see and i remember ( Saya meihat dan saya akan ingat )
3. I do and i understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti )
            Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahapsiswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat.
             Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas.
            Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak.

 Tahapan tersebut adalah:
1. Identifikasi komponen-komponen prosedural            Siswa diperkenalkan pada keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut. Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk menuntun pemikiran siswa.
2. Instruksi dan pemodelan langsung            Selanjutnya, guru memberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.
3. Latihan terbimbing            Latihan terbimbing seringkali dianggap sebagai instruksi bertingkat seperti sebuah tangga. Tujuan dari latihan terbimbing adalah memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.
4. Latihan bebas            Guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah. Jika ketiga langkah pertama telah diajarkan secara efektif, maka diharapkan siswa akan mampu menyelesaikan tugas atau aktivitas ini 95% – 100%. Latihan mandiri tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat melatih keterampilan yang telah diajarkan.

Ada 3 tipe seorang guru dalam mengajar;
1. Guru biasa, yaitu yang selalu menjelaskan
2. Guru baik, yaitu yang mampu mendemonstrasikan dan
3. Guru hebat, adalah guru yang mampu menginspirasikan, yakni guru yang mampu membawa siswanya untuk berpikir tingkat tinggi.
            Pelajaran yang diajarkan dengan cara mengajak siswa untuk berfikir tingkat tinggi akan lebih cepat dimengerti oleh siswa. Jadi untuk keberhasilan penguasaan suatu materi pelajaran atau yang lain, usahakan dalam proses belajarnya selalu menggunakan cara-cara yang membuat siswa untuk selalu berpikir tingkat tinggi.

3. Contoh Menyusun Pertanyaan Ketrampilan Tingkat Tinggi


Keterampilan berpikir yang dikembangkan  dan bentuk pertanyaannya menurut Linn dan Gronlund adalah seperti tertera  pada tabel di bawah ini

Tabel Keterampilan Berpikir dan Bentuk Pertanyaannya (Khusus Bidang studi Kimia)

No
Keterampilan Berpikir
Bentuk Pertanyaan
1
Membandingkan
- Apa persamaan dan perbedaan antara Alkohol 
  dan   Eter
-  Bandingkan dua cara berikut tentang Pembuatan Koloid (cara disperse dan cara kondensasi)
2
Hubungan sebab-akibat
-  Apa penyebab utama terjadinya elektrolisis
-  Apa akibatnya jika Posisi logam yang melapisi logam lain posisinya terbalik (Pada proses penyepuhan)
3
Memberi alasan (justifying)
 Mengapa Alkohol tersier tidak dapat dioksidasi?
    Jelaskan
4
Meringkas
-  Ringkaslah dengan tepat isi Pencemaran  Air, Tanah dan Udara
5
Menyimpulkan
 -  Susunlah beberapa kesimpulan yang berasal  dari data (data uji larutan asam basa dengan kertas lakmus).contoh :
  
Larutan
Kertas lakmus
Merah
Biru
A
Merah
Merah
B
Biru
Biru
C
Merah
Biru
   Buatlah kesimpulan tentang ketiga larutan tersebut!
6
Berpendapat (inferring)
-    Berdasarkan data berikut :
Larutan
I
II
III
IV
V
pH awal
4
5
7
8
10
+ sedikit
asam
3,5
4,9
4
7,98
5
+ sedikit
Basa
6,03
5,01
10
8,01
12
+sedikit
Air
5,05
5
8
7,9
8,5
Dari data diatas yang termasuk larutan penyangga adalah……Jelaskan pendapatmu!
7
Mengelompokkan
  -    Kelompokkan Larutan Berikut Berdasarkan daya hantar listriknya:
       
Sumber mata air
Nyala lampu
Pengamatan lain
1
padam
Ada gelembung gas
2
terang
Byk gelembung
Gas
3
redup
Ada gelembung
Gas
4
padam
Sedikit gelembung gas
5
padam
Tidak ada gelem
Bung gas
8
Menciptakan
 -   Tuliskan beberapa cara sesuai dengan ide Anda    tentang Alat Uji elektrolit !
9
Menerapkan
-    Selesaikan persamaan reaksi redoks berikut :
      MnO4-  +   C2O42- +  OH-        MnO +  CO32- + H2O
.
10
Analisis
-   Berikut ini hasil titrasi 25 ml asam cuka (CH3COOH)
Dengan Natrium Hidroksida (NaOH) 0,1M  menggunakan indicator PP :
Titrasi ke
1
2
3
Vol.CH3COOH(ml)
25
25
25
Vol.NaOH (ml)
19
20
21
Berdasarkan datatersebut konsentrasi CH3COOH
Adalah….
11
Sintesis
-   Tuliskan satu rencana untuk pembuktian Laju reaksi dipengaruhi oleh suhu,luas permukaan dan konsentarsi!
12
Evaluasi
-   Apakah kelebihan dan kelemahan Model atom Bohr!


permasalahan
dalam penerapan disekolah jarang dijumpai guru yang menerapkak atau menilai keterampilan berpikir tingkat tinggi dam pembuatan soal dalam pembelajaran disekolah. entah itu permasalah guru yang kurang bisa membuat soal atau siswa yang tidak sanggu mengerjakan soal yang level tinggu. maka dari tu bagai mana saran anda untuk menanggani permasalah guru dan siswa agar bisa menerapkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam proses pembelajaran?

10 komentar :

  1. Soal-soal HOTS bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi.Dalam melakukan Penilaian, guru dapat menyisipkan beberapa butir soal HOTS. dengan adanya soal-soal HOTS bertujuan untuk mempersiapkan kompetensi peserta didik pada abad 21.karena terdapat 3 kelompok kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21 (21st century skills) yaitu: a) memiliki karakter yang baik (beriman dan taqwa, rasa ingin tahu, pantang menyerah, kepekaan sosial dan berbudaya, mampu beradaptasi, serta memiliki daya saing yang tinggi); b) memiliki sejumlah kompetensi (berpikir kritis dan kreatif, problem solving, kolaborasi, dan komunikasi); serta c) menguasai literasi mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori.
    Penyajian soal-soal HOTSdalam Penilaian dapat melatih peserta didik untuk mengasah kemampuan dan keterampilannya sesuai dengan tuntutan kompetensi abad ke-21 di atas. Melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS, keterampilan berpikir kritis (creative thinking and doing), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (problem-solving).
    untuk itu peran guru disini agar mampu mengajarkan peserta didik dalam pembelajaran kimia dengan selalu menghubungan dengan kehidupan nyata yang sedang terjadi.

    BalasHapus
  2. memang benar dalam penerapan disekolah jarang dijumpai guru yang menerapkak atau menilai keterampilan berpikir tingkat tinggi dam pembuatan soal dalam pembelajaran disekolah. banyak alasan nya seperti guru yang kurang paham bagaimana menilai HOTS dan siswa sendiri yang hanya memiliki LOTS. menurut saya untuk menyelesaikan masalah ini adlaah guru harus memahami apa itu penilaian HOTS,bagaimana pembuatannya,dan bagaimana penerapan penilaiannya. untuk siswa menurut saya siswa harus mulai dibiasakan bagaimana HOTS itu. siswa juga harus paham HOTS dan bagaimana HOTS tersebut.

    BalasHapus
  3. Memang benar di beberapa sekolah masih belum menggunakan soal hots, sebenarnya penggunaannya sdh di terapkan akan tetapi penerapannya belum maksimal. sehingga bebrapa siswa masih mengalami kesulitan ketika ia di berikan soal HOTS. terkadang kita sebagai guru jg masih bingung untuk menyelesaikannya. maka solusi yang paling tepat adalah kita sebagai guru sebaiknya memahami terlebih dahulu mengenai soal HOTS. Setelah kita memahami maka kita akan lebih mudah memberikan pengarahan kepada siswa dalam menyelesaikan soal HOTS.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Saran saya untuk menanggani permasalah guru dan siswa agar bisa menerapkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam proses pembelajaran adalah guru dan siswa terlebih dahulu harus memahami/memiliki kemampuan:

    1. Kemampuan Problem Solving
    2. Berfikir Kritis (critical Thinking
    3. Berfikir Kreatif (Creative Thinking)
    4. Kemampuan berargumenasi (Reasoning)
    dan Kemampuan guru dalam menyusun skenario pembelajaran dan penilaian HOTS dapat ditingkat dalam Forum ilmiah seperti diklat, workshop, atau kegiatan di KKG/MGMP menjadi sarana yang sangat strategis untuk mewujudkannya. Pada kegiatan tersebut disamping para guru mendapatkan wawasan baru dari pakar, juga dapat berdiskusi, sekaligus praktek menerapkan pembelajaran dan penilaian HOTS.

    BalasHapus
  6. Menurut saya memang benar dalam penerapan disekolah jarang dijumpai guru yang menerapkak atau menilai keterampilan berpikir tingkat tinggi dam pembuatan soal dalam pembelajaran disekolah. banyak alasan nya seperti guru yang kurang paham bagaimana menilai HOTS dan siswa sendiri yang hanya memiliki LOTS. Melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS, keterampilan berpikir kritis (creative thinking and doing), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari hari (problem-solving). untuk itu peran guru disini agar mampu mengajarkan peserta didik dalam pembelajaran kimia dengan selalu menghubungan dengan kehidupan nyata yang sedang terjadi, sehingga siswa pun pelan-pelan akan memiliki ketrampilan berpikir tingkat tinggi.

    BalasHapus
  7. Menurut saya untuk menanggani permasalah guru dan siswa agar bisa menerapkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam proses pembelajaran melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS, keterampilan berpikir kritis (creative thinking and doing), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari hari (problem-solving). untuk itu peran guru disini agar mampu mengajarkan peserta didik dalam pembelajaran kimia dengan selalu menghubungan dengan kehidupan nyata yang sedang terjadi, sehingga siswa pun pelan-pelan akan memiliki ketrampilan berpikir tingkat tinggi.

    BalasHapus
  8. menurut saya, Memang iya di beberapa sekolah masih belum menggunakan HOTS baik dalam pembuatan soal, maupun dalam pmbelajarannya sediri. mungkin sudah di terapkan namun penerapannya belum maksimal. sehingga beberapa siswa masih mengalami kesulitan ketika ia di berikan soal HOTS. melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS, keterampilan berpikir kritis (creative thinking and doing), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari hari (problem-solving).
    untuk itu peran guru disini agar mampu mengajarkan peserta didik dalam pembelajaran kimia dengan selalu menghubungan dengan kehidupan nyata yang sedang terjadi, sehingga siswa pun pelan-pelan akan memiliki ketrampilan berpikir tingkat tinggi.

    BalasHapus
  9. Untuk siswa perlu dibiasakan utk berfikir tingkat tinggi dlm pembelajaran. Sebagai guru harus mampu membimbing siswa untuk mampu berfikir kritis dan cerdas berada pada level HOTS. Guru dalam menulis soal-soal HOTS pada dasarnya adalah hal yang baik, tetapi hal ini harus diawali dengan pembelajaran yang HOTS juga, karena akan terasa ganjil mana kala pembelajarannya biasa-biasanya saja, tetapi guru tiba-tiba memberikan soal-soal HOTS pada saat penilaian hasil belajar siswa. Dengan demikian, penilaian HOTS harus diawali atau didasari oleh pembelajaran yang HOTS.
    Kemampuan guru dalam menyusun skenario pembelajaran dan penilaian HOTS harus sama-sama ditingkatkan. Forum ilmiah seperti diklat, workshop, atau kegiatan di KKG/MGMP menjadi sarana yang sangat strategis untuk mewujudkannya. Pada kegiatan tersebut disamping para guru mendapatkan wawasan baru dari pakar, juga dapat berdiskusi, sekaligus praktek menerapkan pembelajaran dan penilaian HOTS. Stimulus yang diberikan pada soal HOTS harus relevan dengan soal HOTS sehingga siswa mampu memberikan jawaban yang tepat.

    BalasHapus
  10. Menurut saya guru harus memahami HOTS terlebih dahulu, kemudian bagaimana penilaian HOTS,bagaimana pembuatannya,dan bagaimana penerapan penilaiannya. Melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS, keterampilan berpikir kritis (creative thinking and doing), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (problem-solving).
    Untuk itu peran guru disini sangat besar, artinya harus mampu membelajarkan peserta didik, agar peserta didik mampu berpikir sampai kepada level HOTS. salah satu cara yang dilakukan adalah dengan membelajarkan siswa dengan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata.

    BalasHapus