KETERAMPILAN BERFIKIR TIGKAT TINGGI (Higher Order Thinking Skill) DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
KETERAMPILAN BERFIKIR TIGKAT TINGGI (Higher Order Thinking Skill) DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Berpikir Tingkat Tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi membingungkan.
Membahas tentang “Berpikir Tingkat Tinggi”, mengingatkan kita kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking. Ketiga aspek itu adalahaspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order thinking. Membahas tentang berpikir tingkat tinggi, kita bahas dulu tentang Ketrampilan berfikir.
Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.
Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking).
Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory.
Berpikir kompleks Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik.
Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian.
Kemampuan berpikir merupakan proses keterampilan yang bisa dilatihkan, Artinya dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kondunsif akan merangsang siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu maka guru diharapkan untuk mencari metode dan strategi pembelajaran yang dampaknya dapat menigkatkan kemampuan berpikir siswa.
HOTS “Higher Order Thinking Skill” atau keterampilan berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif (Presseisen dalam Costa, 1985).
Dalam pembentukan sistem konseptual IPA proses berpikir tingkat tinggi yang biasa digunakan adalah berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan pada zaman perkembangan IPTEK sekarang ini, sebab saat ini selain hasil-hasil IPTEK yang dapat dinikmati, ternyata timbul beberapa dampak yang membuat masalah bagi manusia dan lingkungannya. Para peneliti pendidikan menjelaskan bahwa belajar berpikir kritis tidak langsung seperti belajar tentang materi, tetapi belajar bagaimana cara mengkaitkan berpikir kritis secara efektif dalam dirinya (Beyer dalam Costa,1985). Maksudnya masing-masing keterampilan berpikir kritis dalam penggunaanya untuk memecahkan masalah saling berkaitan satu sama lain.
Indikator keterampilan berpikir kritis dibagi menjadi lima kelompok (Ennis dalam Costa, 1985) yaitu ;
- memberikan penjelasan sederhana,
- membangun keterampilan dasar,
- menyimpulkan,
- membuat penjelasan lebih lanjut serta mengatur strategi dan taktik.
Keterampilan pada kelima kelompok berpikir kritis ini dirinci lagi sebagai berikut:
- Memberikan penjelasan sederhana terdiri dari keterampilan memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan.
- Membangun keteranpilan dasar terdiri dari menyesuaikan dengan sumber, mengamati dan melaporkan hasil observasi.
- Menyimpulkan terdiri dari keterampilan mempertimbangkan kesimpulan, melakukan generalisasi dan melakukan evaluasi.
- Membuat penjelasan lanjut contohnya mengartikan istilah dan membuat definisi.
- Mengatur strategi dan taktik contohnya menentukan suatu tindakan dan berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi.
Keterampilan berpikir siswa dapat dilatihkan melalui kegiatan dimana siswa diberikan suatu masalah dalam hal ini masalah berbentuk soal tes yang bervariasi.
Ada berbagai konsep dan contoh keterampilan berpikir yang dikembangkan oleh para akhli pendidikan.
2. Bagaimana melatih siswa memiliki ketrampilan berfikir tingkat tinggi (HOTS)
Di Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa berpikir tingkat tinggi memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu (teacher center) belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Diperlukan Higher Order Questions (rich questions), pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hypothesise, menganalisis, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, kontras atau membayangkan, menunjukkan jawaban tingkat tinggi.
Untuk menjawab Higher Order Questions (rich questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya ke dalam situasi baru.
Soal-soal ulangan yang dibuat oleh guru perlu memperhatikan beberapa hal:
- Soal hendaknya menggunakan stimulus, stimulus yang baik hendaknya menyajikan informasi yang jelas, padat, mengandung konsep/gagasan inti permasalahan, dan benar secara fakta.
- Soal yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari
- Soal mengukur keterampilan berpikir kritis
- Soal mengukur keterampilan pemecahan masalah
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan pembelajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penbelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:
- keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa
- keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi
- Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing
- Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).
Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.
Hasil penelitian Computer Tchnology Research (CTR) menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat mengingat apa yang dilihatnya sebesar 20%, 30% dari yang didengarnya, 50% dari yang didengar dan dilihatnya, dan 80% dari yang didengar, dilihat dan dikerjakannya secara simultan. Selain itu Levie dan Levie dalam Azhar Arzad (2009: 9) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Sedangkan stimulus verbal memberikan hasil belajar yang lebih baik apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berurut-urutan (sekuensial).
Dalam dunia pendidikan ada 3 model seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran;
1. I hear and i forget ( Saya mendengar dan saya akan lupa )
2. I see and i remember ( Saya meihat dan saya akan ingat )
3. I do and i understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti )
1. I hear and i forget ( Saya mendengar dan saya akan lupa )
2. I see and i remember ( Saya meihat dan saya akan ingat )
3. I do and i understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti )
Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahapsiswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat.
Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak.
Tahapan tersebut adalah:
1. Identifikasi komponen-komponen prosedural Siswa diperkenalkan pada keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut. Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk menuntun pemikiran siswa.
2. Instruksi dan pemodelan langsung Selanjutnya, guru memberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.
3. Latihan terbimbing Latihan terbimbing seringkali dianggap sebagai instruksi bertingkat seperti sebuah tangga. Tujuan dari latihan terbimbing adalah memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.
4. Latihan bebas Guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah. Jika ketiga langkah pertama telah diajarkan secara efektif, maka diharapkan siswa akan mampu menyelesaikan tugas atau aktivitas ini 95% – 100%. Latihan mandiri tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat melatih keterampilan yang telah diajarkan.
Ada 3 tipe seorang guru dalam mengajar;
1. Guru biasa, yaitu yang selalu menjelaskan
2. Guru baik, yaitu yang mampu mendemonstrasikan dan
3. Guru hebat, adalah guru yang mampu menginspirasikan, yakni guru yang mampu membawa siswanya untuk berpikir tingkat tinggi.
Pelajaran yang diajarkan dengan cara mengajak siswa untuk berfikir tingkat tinggi akan lebih cepat dimengerti oleh siswa. Jadi untuk keberhasilan penguasaan suatu materi pelajaran atau yang lain, usahakan dalam proses belajarnya selalu menggunakan cara-cara yang membuat siswa untuk selalu berpikir tingkat tinggi.
3. Contoh Menyusun Pertanyaan Ketrampilan Tingkat Tinggi
Keterampilan berpikir yang dikembangkan dan bentuk pertanyaannya menurut Linn dan Gronlund adalah seperti tertera pada tabel di bawah ini
Tabel Keterampilan Berpikir dan Bentuk Pertanyaannya (Khusus Bidang studi Kimia)
No
|
Keterampilan Berpikir
|
Bentuk Pertanyaan
| ||||||||||||||||||||||||||||||
1
|
Membandingkan
|
- Apa persamaan dan perbedaan antara Alkohol
dan Eter
- Bandingkan dua cara berikut tentang Pembuatan Koloid (cara disperse dan cara kondensasi)
| ||||||||||||||||||||||||||||||
2
|
Hubungan sebab-akibat
|
- Apa penyebab utama terjadinya elektrolisis
- Apa akibatnya jika Posisi logam yang melapisi logam lain posisinya terbalik (Pada proses penyepuhan)
| ||||||||||||||||||||||||||||||
3
|
Memberi alasan (justifying)
|
- Mengapa Alkohol tersier tidak dapat dioksidasi?
Jelaskan
| ||||||||||||||||||||||||||||||
4
|
Meringkas
|
- Ringkaslah dengan tepat isi Pencemaran Air, Tanah dan Udara
| ||||||||||||||||||||||||||||||
5
|
Menyimpulkan
|
- Susunlah beberapa kesimpulan yang berasal dari data (data uji larutan asam basa dengan kertas lakmus).contoh :
Buatlah kesimpulan tentang ketiga larutan tersebut!
| ||||||||||||||||||||||||||||||
6
|
Berpendapat (inferring)
|
- Berdasarkan data berikut :
Dari data diatas yang termasuk larutan penyangga adalah……Jelaskan pendapatmu!
| ||||||||||||||||||||||||||||||
7
|
Mengelompokkan
|
- Kelompokkan Larutan Berikut Berdasarkan daya hantar listriknya:
| ||||||||||||||||||||||||||||||
8
|
Menciptakan
|
- Tuliskan beberapa cara sesuai dengan ide Anda tentang Alat Uji elektrolit !
| ||||||||||||||||||||||||||||||
9
|
Menerapkan
|
- Selesaikan persamaan reaksi redoks berikut :
MnO4- + C2O42- + OH- MnO2 + CO32- + H2O
. | ||||||||||||||||||||||||||||||
10
|
Analisis
|
- Berikut ini hasil titrasi 25 ml asam cuka (CH3COOH)
Dengan Natrium Hidroksida (NaOH) 0,1M menggunakan indicator PP :
Berdasarkan datatersebut konsentrasi CH3COOH
Adalah….
| ||||||||||||||||||||||||||||||
11
|
Sintesis
|
- Tuliskan satu rencana untuk pembuktian Laju reaksi dipengaruhi oleh suhu,luas permukaan dan konsentarsi!
| ||||||||||||||||||||||||||||||
12
|
Evaluasi
|
- Apakah kelebihan dan kelemahan Model atom Bohr!
| ||||||||||||||||||||||||||||||
permasalahan
dalam penerapan disekolah jarang dijumpai guru yang menerapkak atau menilai keterampilan berpikir tingkat tinggi dam pembuatan soal dalam pembelajaran disekolah. entah itu permasalah guru yang kurang bisa membuat soal atau siswa yang tidak sanggu mengerjakan soal yang level tinggu. maka dari tu bagai mana saran anda untuk menanggani permasalah guru dan siswa agar bisa menerapkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam proses pembelajaran?
Penilaian Kemampuan Dasar Laboratorium Dalam Pembelajaran Kimia
Penilaian Kemampuan Dasar Laboratorium
Dalam Pembelajaran Kimia
Penilaian
kinerja (performance assessment) secara sederhana dapat dinyatakan sebagai
penilaian terhadap kemampuan dan sikap siswa yang ditunjukkan melalui suatu
perbuatan. Menurut para ahli penilaian kinerja merupakan penilaian terhadap
perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan kemampuan
siswa dalam proses maupun produk. Penilaian tersebut mengacu pada standar
tertentu.
Standar
diperlukan dalam penilaian kinerja untuk mengidentifikasi secara jelas apa yang
seharusnya siswa ketahui dan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan. Standar
tersebut dikenal dengan istilah rubrik. Rubrik dapat dinyatakan sebagai panduan
pemberian skor yang menunjukkan sejumlah kriteria performance pada proses atau
hasil yang diharapkan. Rubrik terdiri atas gradasi mutu kinerja siswa mulai
dari kinerja yang paling buruk hingga kinerja yang paling baik disertai dengan
skor untuk setiap gradasi mutu tersebut. Dengan mengacu pada rubrik inilah guru
memberikan nilai terhadap kinerja siswa.
Penilaian
kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian
kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal
tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara
“mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan
hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum
tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada
hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world
situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya untuk
memantau ketercapaian tujuan tersebut.
Penilaian
kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran kimia,
penilaian kinerja lebih menekankan proses apabila dibandingkan dengan hasil.
Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau
kemampuan siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses secara
langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan
waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah.
Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat
dilakukan terhadap produk. Misalnya untuk menilai kemampuan siswa membuat
koloid maka guru kimia dapat melihat hasil produk koloid siswa. Melalui produk
tersebut dapat dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan pembuatan koloid
dan usahanya. Usaha dan kemajuan belajar mendapatkan penghargaan dalam
penilaian kinerja. Hal tersebut menyebabkan penilaian kinerja memiliki
keunggulan untuk pembelajaran kimia bila dibandingkan dengan tes tradisional
yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.
Terdapat 7 aspek yang dinilai, yaitu:
1.
Teknik
dasar kerja laboratorium
Berupa
penggunaan alat, pemahaman sifat zat, pencucian dan pembuatan larutan,
penanganan limbah, pemeliharaan alat dan bahan.
2.
Menyiapkan
alat
Menyiapkan
alat yang digunakan sesuai dengan yang diperlukan dalam percobaan.
3.
Perakitan Alat
Dalam
melakukan praktikum, siswa harus mampu merakit alat percobaan sehingga dapat
digunakan dalam praktikum.
4.
Melakukan
percobaan
Dalam
melakukan praktikum siswa harus mampu menyelesaikan praktikum sesui dengan
prosedur percobaan.
5.
Mengumpulkan
data
Dari
data pengamatan dan laporan yang dikerjakan.
6.
Intrepretasi
data
Data
yang diperoleh harus akurat dan reliabilitas, oleh karena itu untuk
memperolehnya dapat menggunakan berbagai alat ukur.
contoh
pada penentuan sifat asam basa suatu zat dapat diuji dengan berbagai alat uji,
misal indikator alami, kertas lakmus, indikator universal, pH meter.
7.
Referensi
Ilmiah
Setelah
melakukan praktikum dan memperoleh data pengamatan, hasil percobaan dibahas dan
dihubungkan dengan konsep yang mendukung data pengamatan. Diperlukan beberapa referensi ilmiah dalam mengerjakan
laporan praktikum.
|
No
|
Aspek
|
skor
|
Kriteria
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Teknik
dasar laboraturium
|
4
|
Pemahaman siswa dengan sifat zat, pencucian dan pembuatan larutan, penanganan
limbah, pemeliharaan alat dan bahan.
|
|
3
|
Kurang 1 dari
aspek pada poin 4
|
||
|
2
|
Kurang 2 dari
aspek pada poin 4
|
||
|
1
|
Tidak memenuhi ketiga aspek pada poin 4
|
||
|
2
|
Proses Pembuatan
|
|
|
|
Persiapan alat dan bahan
|
4
|
Menggunakan alat dan bahan yang sesuai, sesuai
kebutuhan, dan mudah diperoleh
|
|
|
3
|
Kurang 1 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
2
|
Kurang 2 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
1
|
Tidak memenuhi ketiga aspek pada poin 4
|
||
|
Teknik merangkai
alat
|
4
|
Merangkai
alat dengan teliti, dapt dipergunakan, sesuidengan kebutuhan, tidak rumit
|
|
|
3
|
Kurang 1 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
2
|
Kurang 2 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
1
|
Tidak memenuhi ketiga aspek pada poin 4
|
||
|
K3 (keamanan, keselamatan, dan kebersihan)
|
4
|
Prosedur aman, tidak mengancam keselamatan, dan bersih
)
|
|
|
3
|
Kurang 1 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
2
|
Kurang 2 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
1
|
Tidak memenuhi ketiga aspek pada poin 4
|
||
|
3
|
Melakukan
prcobaan
|
4
|
Melakukan
percobaan dengan teliti sesui dengan penuntun prosedur percobaan, kerjasama
dalam percobaan, serius dalam percobaan,
|
|
3
|
Kurang 1 dari 5 aspek pada poin 4
|
||
|
2
|
Kurang 2 dari 5 aspek pada poin 4
|
||
|
1
|
Kurang 3 dari 5
aspek pada poin 4
|
||
|
5
|
Mengumpulkan
data
|
4
|
Data yang didapat
sesuai dengan percobaan, jujur, menyusun data dalam bentuk tapel, rapi dalam
penulisan laporan data
|
|
3
|
Kurang 1 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
2
|
Kurang 2 dari 3 aspek pada poin 4
|
||
|
1
|
Tidak memenuhi ketiga aspek pada poin 4
|
Permasalahan
Syarat memasuki laboratum
adalah siswa memahami atauran
dalam laburaturium, dan telah memahami sifat zat-zat yang ada dalam laboraturium.
Pertanyaan
Jadi jika ada siswa tidak mematuhi
aturan dalam laboraturium contohnya
siswa tidak memakai masker pada saat praktikum maka bagaimana sikap guru menanggapinya?
Dan bagaimana solusi untuk
permasalahan?
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
10 komentar :
Posting Komentar